MERAIH KEBERKAHAN DI BULAN RAJAB

Meraih Keberkahan

Di Bulan Rajab

 

Khutbah Pertama

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اْلوَاحِدِ اْلقَهَّارِ,خَلَقَ الْجَنَّةَ وَأَعَدَّهَا ِلعِبَادِهِ اْلأَبْرَارِ, وَخَلَقَ النَّارَوَأَعَدَّهَا لِعِبَادِهِ اْلكَفَرَةَ وَاْلفُجَّارَ, أَحْمَدُهُ  وَأَشْكُرُهُ وَلَا يَحْمَدُعَلَى الْحَقِيْقَةِ وَلَا يَشْكُرُ سِوَاهُ, وَأُصَلِّى وَأُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّهِ اْلمُصْطَفَى اْلمُخْتَارِ, وَأَتَرَضَّى عَنْ آلِهِ الأَطْهَارِ وَصَحَابَتِهِ الأَخْيَارِ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى  اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .قَالَ تَعَالىَ فِى كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُوْلُواْ قَوۡلٗا سَدِيْدٗا. يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوْبَكُمۡۗ وَمَنْ يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُوْلَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيْمًا. اَمَّا بَعْدُ.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ﷻ yang telah menjadikan surga bagi mereka yang beriman sebagai tempat kembali dan tinggal yang abadi dengan segala kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan terlintas dalam hati manusia. Untuk itu marilah kita tingkatkan kualitas ketakwaan kita, melalui ketaatan kita menjalankan semua titah perintah-Nya dan meninggalkan segala yang menjadi larangan-Nya. Dengan demikian semoga Allah ﷻ menggolongkan kita sebagai hamba- Nya yang mulia dan berhak menempati surga-Nya.

 

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada teladan bagi umat manusia, petunjuk jalan yang lurus dan hujjah bagi orang-orang yang beriman, yakni Rasulullah Muhammad  ﷺ. Semoga doa dan keselamatan senantiasa tercurah kepadanya, juga kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya yang mengimani risalah yang dibawanya.

 

'Ibadallah, di hari yang penuh dengan keberkahan ini, perkenankan kami mengajak jamaah Jumat sekalian untuk menyimak sekaligus mengambil hikmah dan pelajaran dari Khutbah yang akan kami sampaikan dengan judul:  Meraih Keberkahan di Bulan Rajab”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kitab ‘Umdatul Qari’  buah karya Badruddin Al-'Aini, yang merupakan  kitab syarah  Shahih Bukhari, terdapat sebuah kisah yang patut kita tadaburri untuk diambil hikmahnya, yakni tentang situasi krisis air yang dialami oleh Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya.

 

Ketika itu, hingga waktu shalat Ashar tiba, mereka yang berikhtiar mencari air di berbagai tempat tidak berhasil memperolehnya. Air yang tersedia hanyalah air sisa yang jumlahnya tak seberapa banyak. Dalam situasi tersebut, kemudian Rasulullah ﷺ melakukan sesuatu yang membuat orang takjub. Rasulullah ﷺ memasukkan tangan beliau ke dalam air sisa yang berada dalam sebuah wadah, kemudian berseru kepada para sahabatnya, “Ayo mulailah berwudhu. Barakah datang dari Allah. “Al-Barakatu Minallah.” Para sahabat menyaksikan dari sela-sela jari Rasulullah ﷺ memancar air. Akhirnya para sahabat tidak hanya bisa berwudhu dengan sempurna, akan tetapi sekaligus menghilangkan rasa haus karena airnya juga bisa diminum.  Kemudian perawi Hadist, Salim bin Abi Ja’d bertanya kepada Jaabir bin Abdillah: “Berapakah jumlah kalian?” Jaabir menjawab, “Seandainya jumlah kami seratus ribu, pasti akan mencukupi. Akan tetapi jumlah kami hanya lima ratus orang.” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah

Kisah tersebut diatas tidak hanya mengisahkan tentang salah satu mukjizat Rasulullah  ﷺ yakni keluarnya air dari jari-jemari Rasulullah  ﷺ, namun juga ada yang menarik dari kisah diatas yakni perkataan Rasulullah ﷺ tentang “Al-Barakatu Minallah.”   yang menunjukkan bahwa berkah itu bersumber dari Allah ﷻ, bukan berasal dari manusia, air, pohon, matahari, atau yang lainnya. Meskipun, objek yang diberkahi bisa apa saja, termasuk air dan jari-jemari Rasulullah ﷺ. 

 

Menurut Imam Al-Ghazali berkah atau barokah artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan”. Para ulama juga menjelaskan barokah bukanlah cukup dan mencukupi saja, tetapi barokah ialah bertambahnya ketaatan kepada Allah ﷻ dengan segala keadaan yang ada, baik berlimpah atau sebaliknya. Dengan demikian berkah atau barokah itu: “Albarokatu tuziidukum fi thoah”. Jadi berkah atau barokah itu jika hal tersebut menambah ketaatan kepada Allah .

 

Dengan demikian berkahnya hidup itu tidak terkait langsung dengan banyak atau sedikitnya harta benda yang dimiliki. Bisa saja orang tersebut kaya raya namun harta bendanya justru membuat hidupnya gelisah dan menjauhkannya dari ketaatan kepada Allah ﷻ. Sebaliknya, kemiskinan bisa saja  mendatangkan berkah bagi dirinya, jika hal tersebut mampu melatihnya untuk bersabar, mensyukuri nikmat, dan semakin mendekatkannya  kepada Allah ﷻ.

 

Begitu juga berkahnya hidup tidak berkait langsung dengan banyaknya anak yang sukses dengan gelar pendidikan yang hebat dan jabatan yang tinggi, namun memiliki anak yang shaleh yang taat kepada Allah ﷻ dan senantiasa taat dan mendoakan kita selaku orang tua, itulah anak yang berkah. Sebaliknya, tak memiliki anak juga bisa mengantarkan hidup kita menjadi berkah, hal tersebut jika kita tergerak hatinya untuk memelihara anak yatim dan anak-anak terlantar.

 

Berkah juga tidak harus berhubungan dengan kondisi kesehatan yang prima. Sebab, kondisi sakit pun kadang bisa membuatnya menjadi berkah, jika dalam kondisi sakit digunakan untuk instrospeksi diri, taubat, dan memperbanyak dzikir kepada Allah ﷻ. Sebagaimana dicontohkan Nabi Ayyub AS, sakitnya menambah taatnya kepada Allah ﷻ.

 

Berkah juga tak selalu identik dengan umur panjang, ada yang umurnya pendek tapi ketaatan kepada Allah ﷻ amat dasyat, sebagaimana dicontohkan oleh Musab ibn Umair. Tempat yang berkah juga tak mesti subur, sejuk dengan pemandangannya yang indah. Lihatlah tanah Makkah, tanah yang memiliki keutamaan dihadapan Allah, justru beriklim panas dengan tanahnya yang tandus dan gersang.

 

 

Begitu pula dengan waktu. Waktu yang berkah adalah ketika waktu itu datang dan segenap peristiwa yang menyertai di dalamnya membuat kita semakin dekat dengan Allah ﷻ. Salah satu teladan dari Rasulullah ﷺ kepada umatnya adalah memohon keberkahan hidup kepada Allah ﷻ ketika waktu telah memasuki bulan Rajab:

 

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 

“Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bulan Rajab, bulan yang saat ini sedang kita jalani, termasuk salah satu dari empat bulan haram, yakni bulan Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharam, dan Rajab. Dinamakan bulan haram karena bulan-bulan ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. Ibnu Katsir mengatakan bahwa sanksi berbuat dosa di bulan-bulan haram jauh lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya, selain bulan suci Ramadhan. Sebaliknya, amal shaleh di bulan-bulan haram pahalanya lebih besar dibandingkan di bulan lainnya, kecuali bulan Ramadhan.

 

Keistimewaan bulan Rajab juga terletak pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj Rasulullah ﷺ. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab tahun 10 kenabian (620 M). Itulah momen perjalanan Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha lalu menuju ke Sidratul Muntaha yang ditempuh hanya semalam. Dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini, umat Islam menerima perintah shalat lima waktu. Perintah shalat yang di wajibkan atas manusia ini bukanlah suatu penyiksaan melainkan lebih dari itu, yakni sebagai obat penawar untuk menyembuhkan penyakit akhlak yang melanda manusia dalam masyarakat. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam Quran surah Al-Ankabut ayat 45,

 

اُتۡلُ مَآ أُوۡحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ

 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”

 

Demikianlah firman Allah ﷻ, maka sudah seharusnya di bulan Rajab ini kita mulai menata diri dengan memperbaiki kualitas shalat kita, karena shalat pada hakekatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, manusia yang mulia dihadapan Allah ﷻ sekaligus sebagai bekal hidup bermasyarakat dengan baik dan bermartabat, sehingga ia pun menjadi mulia di hadapan masyarakat.

 

Selain itu, peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi di bulan Rajab ini sejatinya juga merupakan sebuah pesan kepada seluruh umat Muhammad  ﷺ, bahwa segala macam cobaan seberat apa pun haruslah kita lihat sebagai sebuah permulaan dari akan dianugerahkannya sebuah kemuliaan dan keberkahan hidup kepada kita. Sehingga saat tiba waktu Rajab, yang Rasulullah  ﷺ minta adalah keberkahan bulan ini, lalu keberkahan bulan Sya’ban, hingga dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Dengan demikian, inti dari berkah adalah meningkatnya taqarrub dan ketaatan kita kepada Allah ﷻ, sehingga kepribadian kita diliputi oleh akhlak mulia dan memaknai setiap aktivitas kita atas dasar nilai ibadah dengan hanya mengharap ridha dan berkahnya hidup dari Allah ﷻ.

 

Dari uraian tersebut, semoga menjadi semakin jelas bahwa bulan Rajab menjadi berkah tatkala ada perkembangan dalam diri kita terkait kedekatan dan ketaatan kita kepada Allah ﷻ. Ketika keberkahan itu datang, secara otomatis kualitas kepribadian kita pun meningkat, baik dalam kondisi sulit maupun lapang, sehat maupun sakit, punya banyak utang maupun dilimpahi keuntungan. Dan ketahuilah sesungguhnya setiap anugerah juga sebenarnya selalu mengandung ujian bagi kita untuk semakin mengintensifkan segala potensi kita demi mengupayakan keridhaan Allah ﷻ. Sejarah seputar peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan palajaran berharga, bagaimana kesusahan dan kesedihan tergantikan dengan sebuah perintah berupa shalat lima waktu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Wallahu a'lam bishawab.

 

بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ ٱللَّهَ  الْعَظِيْمَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُعِيْنٍ مَنِ اسْتَعَانَهُ, وَهَادِى مَنِ اسْتَهْدَاهُ, وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ وَمُصْطَفَاهُ, وَرَضِيَّ اللَّهُ عَنْ آلِهِ وَصَحَابَتِهِ,وَمَنِ اسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ. قَالَ تَعَالىَ:  وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. اَمَّا بَعْدُ

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Pada Khutbah kedua ini marilah kita berdoa dengan penuh kerendahan hati, semoga Allah ﷻ senantiasa memberi kita petunjuk jalan yang lurus yakni jalan orang-orang yang diberi nikmat bukan jalan mereka yang dimurkai bukan pula jalan mereka yang sesat. Karena hanya dengan petunjuk-Nya, semoga kita dianugerahi kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan dalam menjalankan perintah Allah ﷻ. Dan, hanya dengan petunjuk-Nya pula, semoga kita istiqomah dalam menjaga kualitas shalat kita, sehingga seluruh ibadah kita kepada Allah ﷻ tidak bernilai sia-sia. Karena kualitas shalat kita menjadi tolak ukur ibadah-ibadah yang lainnya. Untuk itu, marilah kita berdoa dengan penuh kerendahan hati, semoga Allah ﷻ memberkahi kita di bulan Rajab ini dan memperkenankan kita berjumpa dengan bulan yang jauh lebih mulia yakni bulan Ramadhan Al-Mubarok. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

 

فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا ٱللَّهَ فِيْمَا أَمَرَ, وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوْا اَنَّ ٱللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ, وَثَـنَى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ, وَقَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ :  إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِى اْلعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

 

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا   .رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا .رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ

 

ِبَادَ اللَّه! اِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللَّهِ اَكْبَرُ

 

Disusun oleh :

Team Majlis Hamdalah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bacaan Selawat Nariyah, Lengkap Bahasa Arab, Latin, Terjemahan, serta Keutamaannya

Benarkah Sebuah Keluarga Bisa Bersatu Lagi di Akherat Kelak?.

Amalan-amalan yang Tidak Boleh Ditunda Pelaksanaannya